Total Tayangan Halaman

Jumat, 29 Juli 2011

Aku dan Sahabat Kecilku (14 tahun sudah)

Apa yang kita alami demi teman kadang-kadang melelahkan dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan mempunyai nilai yang indah. Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha pemeliharaan dari kesetiaan dan persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan bertumbuh bersama. Kesetiaan sahabat bukan diukur pada saat kita membutuhkan bantuan barulah kita memiliki motivasi mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan kasih dari orang lain, tetapi justru ia berinisiatif memberikan dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya. Itulah sahabat sejati. Aku lebih memilih memiliki 1 sahabat sejati ketimbang 10 sahabat yang notabenenya tidak membawaku pada kebaikan. Satu sahabat yang shalihah, seseorang yang mengingatkanku pada kebaikan, seseorang yang tidak selalu mengiyakan kemauanku, seseorang yang selalu ada disaatku terpuruk, seseorang yang tidak memperhitungkan sesuatu hal dengan tujuan mendapatkan feedback, dan pastinya seseorang yang menerimaku apa adanya.
  Jika melngingat masa lalu, selama 14 tahun ini banyak kejadian yang mendewasakanku. Menjalani kehidupan bersama sahabat kecil sangat mengesankan. Separuh lebih kehidupanku, tumbuh bersamanya. Banyak kejadian yang tidak terlupakan dibenak kita masing-masing. Seperti masa-masa SD dahulu, sering nongkrong di pertigaan lampu merah sambil bercerita mengenai peristiwa yang terjadi hari ini, memandang lalu lalang kendaraan yang lewat dihadapan kami, bercanda bersama seakan tak ada beban dikehidupan, hingga tak terasa waktu menghentikan canda karena orang tua kami berlomba-lomba meneriakkan nama kami. Yah..kami lupa waktu, selama perjalanan pulang tidak henti-hentinya kami mendapat ceramah gratis. Meski begitu kami tidak berhenti bertindak, keesokannya terulang kembali. Hingga orang tua bosan untuk menjemput kami. Adapula kebiasaan kami di hari Minggu, duduk manis ditongkrongan loper koran (pangkalan penjual koran dekat pertigaan lampu merah) sambil baca koran dan majalah gratis heehehe...dari bapak koran mengendarai sepeda onthel hingga bapak koran memiliki sepeda motor. Untung saja bapaknya baik, jadi tidak ada masalah. Disambi pula ngobrol dengan tukang becak sebelah pangkalan koran.
  Ah..masih banyak cerita tentang persahabatan kami, ada juga kebiasaan tiap malam selain nongkrong dilampu merah. Terkadang selesai mengantarkan kopi untuk penjaga pos kamling komplek rumah, kita duduk manis dihalaman belakang rumah Gita sambil menikmati secangkir kopi dan memandang langit, berbicara tentang impian dan masa depan. Mungkin ini hanya sebagian cerita bahagia, hidup kami juga tidak luput dari duka. Terkadang terjadi konflik diantara kami, itu wajar. Manusia tidak selalu benar. Mengatakan sejujurnya, lalu saling memaafkan. Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya ia memberanikan diri menegur apa adanya. Komitmen harus dijaga, sahabat untuk selamanya. Berusaha mempertahankan, semua didasari saling mengerti, memahami, percaya, memiliki rasa empati dan rasa saling memiliki satu sama lain. Jika komitmen itu dijalankan, InsyaAllah persahabatan tidak akan putus.
   Empat belas tahun sudah kami lewati. Semoga persahabatan ini tetap berjalan hingga otak menghentikan raga ini mengenyam kehidupan. Dan selalu berharap, semoga diakhirat nanti kita dipertemukan kembali sahabat. Ya Rabb, pelindungku..kuhaturkan doa untuk sahabatku, Rabb lindungilah dia, bahagiakan dia, berikanlah dia keselamatan dunia akhirat, dan berkahilah kehidupannya. Amin. Sahabatku, aku mengenalmu lewat hati bukan mata. Jadi jangan biarkan rantai persaudaraan kita putus hanya karena masalah duniawi. Sahabat, tangan ini masih menggenggamu, bahu ini siap sebagai sandaranmu, dan senyum ini akan tetap tenangkanmu. Karena kita, sahabat untuk selamanya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar