Setiap kehidupan penuh pilihan, dituliskan (QS. Al Baqarah:216) “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” Hal itu sudah tertulis jelas dalam kitab, tapi apa daya manusia lebih mengedapankan sesuatu yang membuatnya melayang meski itu hanyalah nikmat yang sekecap dirasakan didunia. Indah memang indah tapi jika manusia melihat tujuan akhir dari sebuah kehidupan dan balasan diakhir sebuah zaman maka ketakutan itu akan muncul untuk membatasi serta membentenginya dalam tindakan yang seharusnya tidak boleh dilakukan. Setiap manusia pernah merasakan, berjalan diantara dua pilihan yang sebenarnya telah diketahui konsekuensinya diakhir nanti. Begitu pula saya, manusia dengan segala kehinaan. Makhluk yang tidak luput akan dosa, pernah memilih jalan yang seharusnya tidak layak dilalui tapi tetap saya jalani dengan segala rasa "bangga" dan "sukacita". Tidak melihat sekeliling bahwa mereka telah tersakiti. Astaghfirulloh'aladzim....
Maaf, saya khilaf..
Kenikmatan itu telah membuat saya terlena, sungguh saya tidak bisa membendung "kesenangan" itu. Saya telah salah membuat keputusan, sesuatu yang saya sukai ternyata amat buruk bagi saya. Saudaraku, masihkah kau berkenan menerima raga ini menyentuh hidupmu. Bawalah raga ini dalam kebaikan, ingatkanlah raga ini jika perbuatan kesengajaan/tidak sengaja telah melenggang pada keburukan, tariklah kembali raga ini dalam pelukan kebaikanNya jika mata hati telah terselimuti awan hitam, dan jangan pernah lepaskan genggaanmu dikehidupnku. Saudaraku, saya minta maaf jika selama ini telah menyakiti ataupun lalai dalam bertindak. Hanya ini yang bisa saya katakan "MAAF". Perkenankanlah maaf ini menghapus kesalahan yang pernah saya perbuat. Waktu, perkenankanlah raga ini mengecap kenikmatan "Idul Fitri" sekali lagi. Biarkanlah saya merasakan bulan yang selalu dirindukan umat muslim diseluruh dunia. Allah izinkan hambaMu ini menjalani bulan yang penuh berkah. Amin.
Kehidupan ini sangat menyenangkan. Berjalan dengan imajinasi membuat dunia lebih berwarna. Imajinasi membentuk mimpi yang nantinya akan menjadi kenyataan. Tak perlu paksaan, dengan kebebasan saja sesuatu hal akan terlihat lebih indah. Semua ini terlihat sangat sederhana tapi sulit dilakukan karena ketakutan terhadap aturan duniawi yang seharusnya tidak perlu ditakuti karena hukum yang asli hanya dari Rabb bukan manusia.
Total Tayangan Halaman
Sabtu, 30 Juli 2011
Jumat, 29 Juli 2011
Aku dan Sahabat Kecilku (14 tahun sudah)
Apa yang kita alami demi teman kadang-kadang melelahkan dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan mempunyai nilai yang indah. Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha pemeliharaan dari kesetiaan dan persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan bertumbuh bersama. Kesetiaan sahabat bukan diukur pada saat kita membutuhkan bantuan barulah kita memiliki motivasi mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan kasih dari orang lain, tetapi justru ia berinisiatif memberikan dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya. Itulah sahabat sejati. Aku lebih memilih memiliki 1 sahabat sejati ketimbang 10 sahabat yang notabenenya tidak membawaku pada kebaikan. Satu sahabat yang shalihah, seseorang yang mengingatkanku pada kebaikan, seseorang yang tidak selalu mengiyakan kemauanku, seseorang yang selalu ada disaatku terpuruk, seseorang yang tidak memperhitungkan sesuatu hal dengan tujuan mendapatkan feedback, dan pastinya seseorang yang menerimaku apa adanya.
Jika melngingat masa lalu, selama 14 tahun ini banyak kejadian yang mendewasakanku. Menjalani kehidupan bersama sahabat kecil sangat mengesankan. Separuh lebih kehidupanku, tumbuh bersamanya. Banyak kejadian yang tidak terlupakan dibenak kita masing-masing. Seperti masa-masa SD dahulu, sering nongkrong di pertigaan lampu merah sambil bercerita mengenai peristiwa yang terjadi hari ini, memandang lalu lalang kendaraan yang lewat dihadapan kami, bercanda bersama seakan tak ada beban dikehidupan, hingga tak terasa waktu menghentikan canda karena orang tua kami berlomba-lomba meneriakkan nama kami. Yah..kami lupa waktu, selama perjalanan pulang tidak henti-hentinya kami mendapat ceramah gratis. Meski begitu kami tidak berhenti bertindak, keesokannya terulang kembali. Hingga orang tua bosan untuk menjemput kami. Adapula kebiasaan kami di hari Minggu, duduk manis ditongkrongan loper koran (pangkalan penjual koran dekat pertigaan lampu merah) sambil baca koran dan majalah gratis heehehe...dari bapak koran mengendarai sepeda onthel hingga bapak koran memiliki sepeda motor. Untung saja bapaknya baik, jadi tidak ada masalah. Disambi pula ngobrol dengan tukang becak sebelah pangkalan koran.
Ah..masih banyak cerita tentang persahabatan kami, ada juga kebiasaan tiap malam selain nongkrong dilampu merah. Terkadang selesai mengantarkan kopi untuk penjaga pos kamling komplek rumah, kita duduk manis dihalaman belakang rumah Gita sambil menikmati secangkir kopi dan memandang langit, berbicara tentang impian dan masa depan. Mungkin ini hanya sebagian cerita bahagia, hidup kami juga tidak luput dari duka. Terkadang terjadi konflik diantara kami, itu wajar. Manusia tidak selalu benar. Mengatakan sejujurnya, lalu saling memaafkan. Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya ia memberanikan diri menegur apa adanya. Komitmen harus dijaga, sahabat untuk selamanya. Berusaha mempertahankan, semua didasari saling mengerti, memahami, percaya, memiliki rasa empati dan rasa saling memiliki satu sama lain. Jika komitmen itu dijalankan, InsyaAllah persahabatan tidak akan putus.
Empat belas tahun sudah kami lewati. Semoga persahabatan ini tetap berjalan hingga otak menghentikan raga ini mengenyam kehidupan. Dan selalu berharap, semoga diakhirat nanti kita dipertemukan kembali sahabat. Ya Rabb, pelindungku..kuhaturkan doa untuk sahabatku, Rabb lindungilah dia, bahagiakan dia, berikanlah dia keselamatan dunia akhirat, dan berkahilah kehidupannya. Amin. Sahabatku, aku mengenalmu lewat hati bukan mata. Jadi jangan biarkan rantai persaudaraan kita putus hanya karena masalah duniawi. Sahabat, tangan ini masih menggenggamu, bahu ini siap sebagai sandaranmu, dan senyum ini akan tetap tenangkanmu. Karena kita, sahabat untuk selamanya.
Jika melngingat masa lalu, selama 14 tahun ini banyak kejadian yang mendewasakanku. Menjalani kehidupan bersama sahabat kecil sangat mengesankan. Separuh lebih kehidupanku, tumbuh bersamanya. Banyak kejadian yang tidak terlupakan dibenak kita masing-masing. Seperti masa-masa SD dahulu, sering nongkrong di pertigaan lampu merah sambil bercerita mengenai peristiwa yang terjadi hari ini, memandang lalu lalang kendaraan yang lewat dihadapan kami, bercanda bersama seakan tak ada beban dikehidupan, hingga tak terasa waktu menghentikan canda karena orang tua kami berlomba-lomba meneriakkan nama kami. Yah..kami lupa waktu, selama perjalanan pulang tidak henti-hentinya kami mendapat ceramah gratis. Meski begitu kami tidak berhenti bertindak, keesokannya terulang kembali. Hingga orang tua bosan untuk menjemput kami. Adapula kebiasaan kami di hari Minggu, duduk manis ditongkrongan loper koran (pangkalan penjual koran dekat pertigaan lampu merah) sambil baca koran dan majalah gratis heehehe...dari bapak koran mengendarai sepeda onthel hingga bapak koran memiliki sepeda motor. Untung saja bapaknya baik, jadi tidak ada masalah. Disambi pula ngobrol dengan tukang becak sebelah pangkalan koran.
Ah..masih banyak cerita tentang persahabatan kami, ada juga kebiasaan tiap malam selain nongkrong dilampu merah. Terkadang selesai mengantarkan kopi untuk penjaga pos kamling komplek rumah, kita duduk manis dihalaman belakang rumah Gita sambil menikmati secangkir kopi dan memandang langit, berbicara tentang impian dan masa depan. Mungkin ini hanya sebagian cerita bahagia, hidup kami juga tidak luput dari duka. Terkadang terjadi konflik diantara kami, itu wajar. Manusia tidak selalu benar. Mengatakan sejujurnya, lalu saling memaafkan. Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya ia memberanikan diri menegur apa adanya. Komitmen harus dijaga, sahabat untuk selamanya. Berusaha mempertahankan, semua didasari saling mengerti, memahami, percaya, memiliki rasa empati dan rasa saling memiliki satu sama lain. Jika komitmen itu dijalankan, InsyaAllah persahabatan tidak akan putus.
Empat belas tahun sudah kami lewati. Semoga persahabatan ini tetap berjalan hingga otak menghentikan raga ini mengenyam kehidupan. Dan selalu berharap, semoga diakhirat nanti kita dipertemukan kembali sahabat. Ya Rabb, pelindungku..kuhaturkan doa untuk sahabatku, Rabb lindungilah dia, bahagiakan dia, berikanlah dia keselamatan dunia akhirat, dan berkahilah kehidupannya. Amin. Sahabatku, aku mengenalmu lewat hati bukan mata. Jadi jangan biarkan rantai persaudaraan kita putus hanya karena masalah duniawi. Sahabat, tangan ini masih menggenggamu, bahu ini siap sebagai sandaranmu, dan senyum ini akan tetap tenangkanmu. Karena kita, sahabat untuk selamanya.
Selasa, 26 Juli 2011
Just for You, my Rain
Memang tak ada yang mengerti. Kapan dia datang, kapan dia pergi. Semuanya berjalan begitu cepat. Ketika kesalahan itu terjadi, semuanyapun berakhir...tapi hanya dalam hitungan jam semua kembali seperti semula. Hati tak mengerti akhir dari sebuah perenungan. Nyaris menyerah jalani sebuah hubungan. Setiap jalinan yang terbentuk dikehidupan, semua diterima dengan baik. Tuluspun mengiringi. Meskipun begitu terkadang hal itu dipermainkan, dipandang sebelah mata hanya karena keegoisan semata. Tapi itu masa lalu. Dan kini biarkan hati menyambutnya, membuka lembaran baru untuk tujuan yang sesungguhnya. Tidak main-main, keseriusan, kesungguhan, ketulusan dan komitmenpun terbentuk. Sudah hentikan permainan, kita mulai dengan ijin Dia sebagai pintu awal dari kehidupan baru, KAU dan AKU. Jangan biarkan keraguan merapuhkan hubungan ini. AKU, KAMU, hanyalah manusia biasa yang bisa melakukan sebuah kesalahan. Jika suatu hari nanti itu terjadi, hanya ada satu kesempatan dan selanjutnya...tergantung keputusan dari hati. Kesetiaanmu yang kini menjadi jaminan. Kepercayaanku telah kuserahkan sepenuhnya padamu. Jadi, jangan buat mata ini menitikkan buliran kesedihan. Cuma kamu lelaki satu-satunya yang mampu melumpuhkan benteng pertahananku. Karena itu, jangan kecewakan hati ini. My Rain.
Jejak
Tidak ada yang perlu disesali, keputusan sudah diambil & harus dijalani. Kata Dia ini sebuah ujian, karena lewat jalan ini hati bisa diperlapang. Sabar, berusaha mengerti, memahami, & tetap istiqomah demi menggapai ridhoMu. Saat dilema melanda, Kau yakinkan aku lewat selentingan sebuah buku yang kubaca.
Saat itu pula, tekad untuk meruntuhkan sekat yang telah lama ada sudah bulat. Lewat pertemuan malam itu pula Kau meyakinkan hati ini. Terlanjur rasa itu datang, dengan rasa itu pula aku akan membawanya kejalanMu. Sandaranku hanya padaMu, tak ada yang lain. Semuanya ku serahkan padaMu. Aku hanya ingin orang yang aku sayangi dan aku cintai selalu berada dijalanMu. Ini sedikit jejak kehidupanku untuk menempuh ridhoMu. Bantu aku untuk membuatnya jadi lebih baik. Amin. Love you Allah.
Saat itu pula, tekad untuk meruntuhkan sekat yang telah lama ada sudah bulat. Lewat pertemuan malam itu pula Kau meyakinkan hati ini. Terlanjur rasa itu datang, dengan rasa itu pula aku akan membawanya kejalanMu. Sandaranku hanya padaMu, tak ada yang lain. Semuanya ku serahkan padaMu. Aku hanya ingin orang yang aku sayangi dan aku cintai selalu berada dijalanMu. Ini sedikit jejak kehidupanku untuk menempuh ridhoMu. Bantu aku untuk membuatnya jadi lebih baik. Amin. Love you Allah.
Senin, 25 Juli 2011
Demi Kamu
Bahagia rasanya menemani kawan tersayang menapaki kerikil hingga karang yang terus menerus melukai telapak kaki khidupan. Meski jatuh terpuruk hingga tenggelam, tangan ini akan tetap menggenggamu kawan. Hingga kau mampu tegap berdiri & berubah menjadi lebih baik. Belajar bersama tentang kehidupan & mengenal Dia lebih jauh itu sangat menyenangkan. Aku senang melihat simpul dibibirmu. Sangat menyejukkan..menenangkan..serasa tubuh ini bermandikan embun. Demi kamu, aku akan bertahan. Kita ini satu..hidup bersama, terkungkung dalam sosialisasi kehidupan. Artinya, satu sama lain saling membutuhkan.
Jangan pernah merasa terasingkan. Bagaimanapun status maupun kehidupanmu dimasa lalu..kamu akan tetap menjadi sahabatku. Tidak perlu berterima kasih karena mendengar kata "terima kasih", bukanlah tujuanku. Melihat perubahanmu yang lebih baik saja aku bahagia. Dan yang lebih membuatku semangat berada disisimu adalah pengakuanmu atas keberadaanku. Kawan...mari kita berjalan, berlari menyongsong impian yang ada didepan mata kita.
Sabtu, 23 Juli 2011
Bolehkah aku ber'ANDAI'
Banyak hal yang menjadi topik dialam bawah sadarku. Entah itu hal penting atau tidak. Sebenarnya hanya sesuatu yang tidak perlu terpikirkan. Tapi semakin cuek, semakin terpendam, akan berakhir tidak baik. Seperti bom yang meledak. Habis perkara. Hati inginnya begini, pikiran inginnya begitu trus bagaimana dengan kelanjutan perilaku? Semua itu sudah ada porsinya masing-masing. Lantas kenapa masih ada keluhan? Manusia...
Dalam hati berkeinginan apa yang kita cita-citakan menjadi kenyataan. Dan tidak semua keinginan tersebut tercapai. Sampai suatu ketika kata itu terucap "ANDAI". Kata yang sebenarnya melampaui jalan yang telah tercatat di keabadian. Mungkin kata itu sudah menjadi sesuatu yang tidak tabu. Menjadi kosa kata umum dalam setiap ucapan yang secara tidak langsung menggambarkan rasa tidak syukur kita padaNya. Atas semua hal. Yah...semua hal yang tidak tercapai dan tidak sesuai.
Sekali lagi, Manusia....
Aku tidak mengingkari bahwa aku juga melakukannya. Aku juga manusia, "sama" seperti dengan kalian. Tak ingin mengatakannya, tapi sekali ini ijinkan aku melontarkannya. Ya Rabb...Bolehkah aku ber"andai"?
Dalam hati berkeinginan apa yang kita cita-citakan menjadi kenyataan. Dan tidak semua keinginan tersebut tercapai. Sampai suatu ketika kata itu terucap "ANDAI". Kata yang sebenarnya melampaui jalan yang telah tercatat di keabadian. Mungkin kata itu sudah menjadi sesuatu yang tidak tabu. Menjadi kosa kata umum dalam setiap ucapan yang secara tidak langsung menggambarkan rasa tidak syukur kita padaNya. Atas semua hal. Yah...semua hal yang tidak tercapai dan tidak sesuai.
Sekali lagi, Manusia....
Aku tidak mengingkari bahwa aku juga melakukannya. Aku juga manusia, "sama" seperti dengan kalian. Tak ingin mengatakannya, tapi sekali ini ijinkan aku melontarkannya. Ya Rabb...Bolehkah aku ber"andai"?
Langganan:
Postingan (Atom)

